Jumat, 21 Januari 2011


Pesan sosial dari Ki Ageng Gribik...

Mereka, para santri berbaju putih itu melangkah pelan menuruni tangga. Dari mulutnya, mengalun zikir tiada henti sambil memanggul gunungan apem. Tiba di tepi Kali Soka di tanah lapang Sendang Plampeyan, suara zikir itu kian terdengar kencang seperti menggema di tengah-tengah ribuan orang yang berdiri di bawah terik mentari.

“Yaqowiyu ya aziz, qowina walmuslimin...”

“Yaqowiyu ya rozak, warzuqna walmuslimin...”

Demikian zikir yang terus berkumandang kala itu. Sesaat, sebelum perhelatan religi akbar itu dimulai, sebait doa pun mengawalinya. Begitu doa usai dipanjatkan, ribuan orang yang menyemut itu pun riuh berebut apem. Ada yang terjatuh, terjengkang, terinjak, tertawa, dan juga teriak. Namun ada pula yang terus khusuk berdoa dari kejauhan tanpa berebut apem. “Kulo sampun tuwo. Mboten saged rebutan apem (saya sudah tua. Tak bisa berebut apem-red,” kata Mbah Warso, perempuan renta asal Baki, Sukoharjo.

Jumat (21/1) siang itu, Desa Jatinom—sebuah desa yang menjadi cikal bakal lahirnya nama Kecamatan Jatinom, Klaten—memang sangat padat. Di setiap ruas jalan dan gang, dipenuhi para penjaja makanan apem. Mereka merasa bahwa apem kali itu adalah keberkahan. “Apem itu afwun, artinya memafkan. Jadi, ya berebut maaf,” jelas Panji Supardi, juru kunci makam Ki Ageng Gribik suatu hari.

Asal muasal tradisi sebaran apem memang tak bisa dilepaskan dari sosok Ki Ageng Gribik, ulama kharismatik yang hidup di sekitar abad XVI. Dalam perjalanannya, Ki Ageng Gribik menjadi sangat dicintai rakyatnya karena kesalehan sosialnya. “Dan sebaran apem adalah salah satu tradisi peninggalan Ki Ageng Gribik yang harus kita jaga. Karena, di dalamnya penuh dengan pesan sosial, cinta kasih, dan saling peduli kepada sesama,” kata Bupati Sunarna di sela-sela sambutannya di kecamatan setempat.

Sejak ratusan tahun silam, tradisi yang bernama Yaqowiyu itu seakan terus menyimpan magnet bagi ribuan warga Klaten, tak terkecuali warga Jawa Tengah dan wisatawan mancanegara. Ketika pertengahan bulan Safar tiba, maka sebaran apem menjadi puncak acara yang dinanti-nanti. Mbah Warso barangkali adalah saksi hidup betapa sebaran apem selalu menggerakkan hatinya untuk mendatangi acara itu. Kini, meski usianya telah menginjak 83 tahun, namun Mbah Warso tak pernah goyah untuk mendatangi acara Yaqowiyu setahun sekali itu. “Dateng mriki niku ngalap berkah (ke sini itu mengharap berkah-red),” katanya.

Berkah, bagi Mbah Warso barangkali sungguh berarti. Mungkin bagi kesehatannya, bagi rezekinya, mungkin pula bagi laku hidupnya agar selalu setia mengikuti jejak kesalehan sosial Ki Ageng Gribik.